Arsip Festival Film Indonesia

Lola Amaria

30 Juli 1977

Perempuan kelahiran Jakarta ini mengawali kariernya di ranah hiburan setelah menjuarai ajang pencarian model Wajah Femina 1997. Ia kemudian melebarkan sayapnya dengan bermain di sinetron Penari garapan sutradara Nan Triveni Achnas. Karier keaktorannya berlanjut di beberapa sinetron lain, seperti Arjuna Mencari Cinta, Tali Kasih, dan Merah Hitam Cinta.

 

Lola menjajaki langkahnya di layar lebar saat usianya 23 tahun dengan berperan dalam film Tabir (2000), Merdeka 17805 (2001), Beth (2001), Ca Bau Kan (2002), Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan Kisah Tiga Titik (2013). Pada tahun 2003, Lola menguji kemampuannya sebagai produser sekaligus pemain dalam film Novel Tanpa Huruf “R” (2003). Pada tahun 2011, ia mendirikan Lola Amaria Production yang berfokus pada produksi film-film yang mengangkat isu sosial dan kemanusiaan, seperti Sanubari Jakarta (2012), Kisah 3 Titik (2013), Inerie (2014), dan Negeri Tanpa Telinga (2014).

 

Lola mulai merambah dunia penyutradaraan dalam film Betina (2006). Betina (2006) memperoleh penghargaan NETPAC Award dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2006. Film ini juga menjadi salah satu film Indonesia yang ditayangkan di Festival Film Internasional Singapura Ke-20.

2 Nominasi

    WP_Post Object ( [ID] => 7113 [post_author] => 3 [post_date] => 2020-12-22 09:13:53 [post_date_gmt] => 2020-12-22 09:13:53 [post_content] => [post_title] => Negeri Tanpa Telinga [post_excerpt] => [post_status] => publish [comment_status] => closed [ping_status] => closed [post_password] => [post_name] => negeri-tanpa-telinga [to_ping] => [pinged] => [post_modified] => 2020-12-22 09:13:53 [post_modified_gmt] => 2020-12-22 09:13:53 [post_content_filtered] => [post_parent] => 0 [guid] => https://arsip.festivalfilm.id/?post_type=film&p=7113 [menu_order] => 0 [post_type] => film [post_mime_type] => [comment_count] => 0 [filter] => raw )
  • 2010 Nominasi Skenario Asli Terbaik Negeri Tanpa Telinga
  • WP_Post Object ( [ID] => 7562 [post_author] => 3 [post_date] => 2020-12-23 05:02:38 [post_date_gmt] => 2020-12-23 05:02:38 [post_content] => Mayang dipaksa ayahnya berangkat ke Hong Kong sebagai tenaga kerja wanita di samping bertugas mencari adiknya, Sekar, yang tidak ada kabar beritanya setelah sekian lama menjadi buruh migran juga. Penuh dengan ketidaktahuan dan rasa takut ia belajar dan bekerja sekaligus bertahan hidup di keluarga yang bersikap baik terhadapnya. Di waktu-waktu lowong dan libur ia selalu mencari kabar tentang adiknya. Dari teman-teman dan dari Gandi, pegawai Kedutaan RI yang bertugas mengurusi buruh migran, juga dari Vincent, yang naksir Mayang, sedikit demi sedikit mulai terkuak keberadaan Sekar. Ternyata sang adik terjerat hutang dan tidak mampu membayar, hingga dia melakukan apa saja agar bisa mendapat uang untuk pembayar hutang dan bertahan hidup. Kesulitannya adalah Sekar “malu” untuk ditolong dan memilih bersembunyi dari kawan-kawannya yang biasa berumpul setiap Minggu pagi di taman Victoria Park. Jelujuran kisah utama ini dihiasi juga dengan penggambaran kehidupan para tenaga kerja wanita di Hong Kong dengan beragam masalah pribadi masing-masing: ditipu pacar, jeratan iming-iming kredit barang, lesbianisme dll. [post_title] => Minggu Pagi di Victoria Park [post_excerpt] => [post_status] => publish [comment_status] => closed [ping_status] => closed [post_password] => [post_name] => minggu-pagi-di-victoria-park [to_ping] => [pinged] => [post_modified] => 2020-12-23 05:02:38 [post_modified_gmt] => 2020-12-23 05:02:38 [post_content_filtered] => [post_parent] => 0 [guid] => https://arsip.festivalfilm.id/?post_type=film&p=7562 [menu_order] => 0 [post_type] => film [post_mime_type] => [comment_count] => 0 [filter] => raw )
  • 2010 Nominasi Sutradara Terbaik Minggu Pagi di Victoria Park